Selamat Malam Man Teman Malam ini saya mau cerita tentang seekor burung, burung beneran bukan yang lain..di simak yah...!
![]() |
| Ilustrasi |
Seekor burung turun ke
jalan, di sinar pagi yang mulai mengiris dini. Kaki rampingnya menjejak bumi,
lembut dan berhati hati. Sementara kedua mata bundarnya terlihat berpendar dan
bergerak gerak penuh curiga seakan memeriksa pandang berulang ulang.
Lehernya yang tebal berbulu halus
mengirim kilat indah rona violet tertimpa sinar mentari, ketika lehernya
berputar sebagai tanda siaga. Seekor burung mirip merpati turun ke bumi
untuk memuaskan rasa laparnya, namun berhati hati terhadap yang bukan lingkungannya.
Pedestrian yang sejuk
terlihat sepi, rumput halus bak permadani toska diinjaknya berjingkat, sebagai
isyarat alami langkah penuh curiga. Ketika langkah kakunya mulai membiasa
mengatasi kecemasan serasa berjalan di alas yang aneh, dia menampak seekor
cacing yang menyembul dari sisiran tanah berumput.
Dikejarnya lalu digenggam dengan cakarnya,
sembari membelah belah dengan paruh tajamnya. Teramat nikmat sarapan melata
bergelang itu dilahapnya hingga tandas.
Sesudahnya dia melonjak
kecil menghampiri kilat embun yang masih tertinggal di pucuk pucuk rumput.
Si burung ungu menyeruput air suling alam sepuasnya, berkali lehernya
bolak balik membungkuk dan mendongak, menelan aliran air murni yang sejuk masuk
temboloknya.
Tiba tiba burung kikuk melompat kesamping
bergerak refleks untuk membiarkan seekor kumbang yang merebut jalurnya.
Sementara kembali mata burung bergerak putar mengintai penuh syak. Kembali ke gerak sedia kala, burung kian kemari gelisah seperti takut
membahayakan bumi.
Dan aku yang memperhatikannya,
tanpa diketahui, begitu geli mengikuti keseluruhan tingkah lelaku sang burung.
Ku mencoba ramah dan mendekat, sambil mengayunkan lembut remah remah roti yang
ku bawa.
Namun dia hanya melirik sekejap kearah remah
yang ku tebar di tanah, seraya membuka gulungan bulu sayapnya sebagai persiapan
lepas bumi. Perlahan kedua sayap kelabunya melebar penuh, sebagai tanda
kesiapan mengangkat tubuh.
Lalu perlahan kaki kecilnya naik mengayun,
melepas tanah dilanjutkan dengan ayunan kedua sayap sebagai tanda melepas bumi.
Perlahan lalu cepat, mengangkat tubuhnya menyelaraskan dengan gerak
sayapnya.
Semakin tinggi, sayap
burung bergerak bak dayung membelah samudra, demikian lembut, sayap itu
bergerak tanpa membuat percikan, memotong udara seperti kayuh dayung membelah
air.
Aku mendongak memaksa pandang laju indah kayuh
udara sang burung, hingga kehilangan nya di saput awan. Membuatku
terhuyung untuk segera melepas tatapan dan mengambil duduk di kursi taman yang
sepi. Lama ku tarik berkali nafas yang terasakan makin memberat, namun
kudiamkan saja dengan menyandarkan punggungku lebih landai.
Sudah lebih dari satu bulan
almanak, burung burung itu beringsut. Barangkali ini burung terakhir yang masih
mau menurun bumi, selebihnya sudah memilih habitat langitnya menjauh dari tanah
buana.
Mungkin alam yang bertindak sebagai ibu yang
memberikan kenyamanan bagi setiap mahluk hidup, mulai menakutkan burung burung
itu. Seakan dia tau bahaya yang ditimbulkan oleh dunia yang jauh lebih
besar dan lebih kuat. Menjadi ketakutan yang mengisyaratkan tentang interaksi
manusia dengan alam.
Burung burung itu jauh
lebih waspada kepada manusia, kerna sejatinya dia begitu berhati hati
berjingkat menginjak bumi, memperlakukan alam selembut adanya tersedia di bumi.
Memakan cacing tanah dan mereguk embun sesuai dengan kebutuhannya.
Tak harus memperkosa bumi untuk mencari air
dan lauk, burung hanya pergi mencari ke tempat air dan cacing, dimana tetap
membuat embun dan rumput menjadi nyaman.
Sejauh ini, hidupnya telah disajikan sebagai
gerakan sederhana dari kebutuhan ke kebutuhan. Mempersilakan kumbang yang
lewat melayang, sang burung berusaha secara sadar untuk membiarkan lebah
mencari gerak hidup alam, bagai dirinya sendiri yang sadar akan dunianya.
Habis sudah pagi kali ini, mulai tertelan
terik. Kupastikan bahwa itulah burung terakhir yang turun ke jalan kota. Burung
sendiri yang turun ke bumi. Akupun beranjak pergi, sebelum tubuhku
teracuni violet berlebih, meninggalkan taman yang senyap, tanpa lalu lalang.
Ku keluhkan sepi dan
kehadiran burung burung yang telah usai, kerna ku tau hanya ku sendiri
yang tersisa. Sementara nafas berat yang semula berat perlahan mulai menyurut
ringan. terlalu ringan, kupikir.
Saatnya ku kenakan masker dan bersiap
mengangkat kedua sayap besarku, untuk bersiap berangkat ke awan.

Komentar
Posting Komentar