Langsung ke konten utama

Gairah Pendidikan Vokasi


Pendidikan vokasi sedang mendapat angin segar. Harapan yang telah lama dinanti oleh para penyelenggara Pendidikan SMK, kini terpenuhi. Belum lama ini telah disahkan Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 82 Tahun 2019 tentang Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, yang salah satunya berisi pasal tentang keberadaan Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi.

Selama puluhan tahun, Direktorat Pembinaan SMK berada dalam satu sistem pengelolaan di Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah. Saat ini setelah terbitnya Perpres tersebut ia menjadi Direktorat Jenderal tersendiri. Publik menaruh harapan besar agar Pendidikan Vokasi menjadi lebih fokus dalam pengelolaannya.

Menurut saya, Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi yang baru ini perlu membuat program-program prioritas. Pertama, penyelarasan kurikulum SMK dengan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DU/DI). Kedua, program untuk mengatasi persoalan kekurangan guru kejuruan dan instruktur kejuruan yang kompeten serta sesuai dengan bidang keahliannya. Ketiga, menyediakan ruang kreativitas yang difasilitasi oleh Pemerintah Daerah bagi lulusan SMK untuk mandiri berwirausaha. Keempat, mempersiapkan lapangan kerja yang lebih luas bagi lulusan yang tidak melanjutkan studi. Kelima, merumuskan sistem penilaian yang sesuai dengan karakteristik SMK, seperti mekanisme Uji Kompetensi Keahliaan (UKK), Ujian Paket Kompetensi (UPK), termasuk program untuk memenuhi Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI). Tujuannya agar kerangka penjenjangan kualifikasi kompetensi di berbagai sektor lebih jelas. Keenam, perlu disusun sebuah pedoman yang jelas dan terukur dalam bentuk model Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) terhadap peserta didik sebagai dasar pengakuan atas capaian pembelajaran seseorang yang diperoleh dari pendidikan formal, non-formal, informal, dan/atau pengalaman kerja ke dalam pendidikan formal.

Untuk mendukung tercapainya program-program tersebut, perlu dibangun koordinasi dan harmonisasi antara Kemdikbud dengan 11 Kementerian lain sesuai dengan amanat Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), termasuk koordinasi dengan dengan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) yang lebih intensif.

Standar Nasional Pendidikan SMK

Dalam Perpres Nomor 82 Tahun 2019 disebutkan bahwa Kemdikbud memerankan fungsi untuk menetapkan standar nasional pendidikan dan kurikulum nasional pendidikan menengah, pendidikan dasar, pendidikan anak usia dini, dan pendidikan non-formal.

Terkait dengan hal tersebut, Kemdikbud telah menetapkan Standar Nasional Pendidikan pada tahun 2018 yang lalu, yaitu dengan  terbitnya Permendikbud Nomor 34 Tahun 2018 tentang Standar Nasional Pendidikan untuk SMK. Isinya menyebutkan bahwa Standar Pengelolaan SMK perlu didukung oleh keterampilan guru dalam memanfaatkan teknologi untuk mengatasi permasalahan di dunia kerja. Ini adalah pekerjaan rumah Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi untuk membekali para guru SMK melalui program magang di dunia industri.

Semua regulasi yang dibuat tersebut diharapkan dapat membuka jalan untuk pengembangan SMK, menyelaraskan kurikulum SMK dengan kompetensi yang sesuai dengan pengguna lulusan (link and match), serta meningkatkan kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan SMK. Selain itu juga diharapkan dapat semakin mengokohkan kerjasama dengan Kementerian/Lembaga, Pemerintah Daerah, dunia usaha, serta meningkatkan akses sertifikasi dan akreditasi SMK.

Pendidikan Vokasi Negara lain

Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi yang baru terbentuk harus proaktif melakukan kajian terhadap praktik-praktik terbaik (best practices) dalam pendidikan vokasi di negara-negara maju, baik di Amerika, Eropa, Australia, maupun Asia. Indonesia perlu belajar bagaimana menghadapi tantangan persaingan global abad 21 dan revolusi industri 4.0. Pendidikan vokasi harus menyelaraskan kebutuhan kompetensi dan kualifikasi lulusannya serta mengikuti perkembangan pengetahuan dan teknologi di dunia kerja.

Amanah Nawacita dan Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 dalam rangka pemenuhan tenaga kerja terampil sampai 2030 merupakan tantangan lain yang harus disiapkan oleh pendidikan vokasi khususnya di Perguruan Tinggi. Dalam hal ini, para dosen adalah ujung tombak dalam menjawab tantangan tersebut.

Sayangnya, sebagian besar dosen pendidikan vokasi masih berasal dari perguruan tinggi non-vokasi. Padahal, dosen-dosen vokasi seharusnya memiliki keterampilan profesional untuk mengelola pembelajaran yang berkaitan dengan pembentukan pengalaman belajar dan penguasaan keterampilan kerja lulusannya. Hal inilah yang selama ini menjadi kendala besar dalam merealisasikan program revitalisasi guru SMK.

Untuk itu, kegiatan magang guru SMK di dunia industri yang telah dirintis oleh Direktorat Pembinaan SMK melalui program revitalisasi diharapkan membawa dampak yang signifikan bagi pengembangan SDM yang bermuara pada kompetensi peserta didik abad 21. Kompetensi tersebut diantaranya meliputi cara berfikir, cara bekerja, kemampuan menggunakan teknologi dan keterampilan hidup di dunia.

Kita berharap nantinya kebijakan dan program dari Direktorat Jenderal Pendidikan Vokasi yang baru ini mampu menjawab tantangan dan kebutuhan kompetensi global tersebut. Sehingga masa depan pendidikan vokasi di Indonesia semakin cerah. 

Sumber : Adjat Sudrajat Blog

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pentingnya Pendidikan untuk Masa Depan

Pendidikan merupakan salah satu aspek yang sangat penting dalam kehidupan setiap individu dan juga bagi kemajuan suatu bangsa. Dalam era yang terus berkembang ini, pendidikan menjadi kunci utama untuk mencapai kesuksesan dan mewujudkan masa depan yang cerah. Berikut ini adalah beberapa alasan mengapa pendidikan memiliki peran yang begitu penting untuk masa depan. Pembangunan Keterampilan Melalui pendidikan, individu memiliki kesempatan untuk mengembangkan dan memperoleh berbagai keterampilan yang diperlukan dalam dunia kerja. Dalam dunia yang terus berubah dan kompetitif, keterampilan seperti kemampuan berpikir kritis, kemampuan berkomunikasi, keterampilan teknologi informasi, dan pemecahan masalah menjadi sangat penting. Pendidikan memberikan landasan untuk mengasah keterampilan ini, sehingga individu dapat menjadi lebih siap dan berkualitas untuk menghadapi tantangan di masa depan. Peningkatan Kesempatan Kerja Pendidikan yang baik memberikan peluang yang lebih besar untuk mendapatkan...

Tantangan dan Strategi Pendidikan SMK Menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean ( MEA)

Tantangan Sekolah Menengah Kejuruan. Kondisi dan Kualitas pendidikan di Indonesia saat ini sangat memprihatinkan. Ini dibuktikan antara lain dengan data UNESCO (2000) tentang peringkat Indeks Pengembangan Manusia (Human Development Index), yaitu komposisi dari peringkat pencapaian pendidikan, kesehatan, dan penghasilan per kepala yang menunjukkan, bahwa indeks pengembangan manusia Indonesia makin menurun. Di antara 174 negara di dunia, Indonesia menempati urutan ke-102 (1996), ke-99 (1997), ke-105 (1998), dan ke-109 (1999). Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survai dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebag...

LIVE :MEXICO VS ENGLAND

Pagelaran ajang sepakbola terbesar Piala Dunia sudah dimulai, Untuk menonton siaran langsung pastikan sesuai jadwal live.   Untuk Nonton Secara Gratis Klik  disini